Buletin Dakwah Al-Hujjah

Menuju Islam Hakiki

 
‘ARSY AR-RAHMAN PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Aqidah
Oleh Tim Redaksi Al-Hujjah   
Jumat, 06 Februari 2009 00:00

Buletin Al-Hujjah Vol: 17-IX/Shafar-1430H/02-09

 “Dalil-Dalil Tentang Keberadaan Allah di Atas ‘Arsy”

Sebenarnya, al-Qur-an dan as-Sunnah sarat akan berita-berita tentang sifat-sifat Allah yang bisa menambah keimanan, ketakjuban, kecintaan sekaligus rasa takut kita kepada-Nya. Boleh dibilang, Allah memperkenalkan diri-Nya lebih dekat lagi pada hamba-hamba-Nya melalui al-Qur-an dan as-Sunnah. Salah satunya adalah kabar bahwa Dirinya bersemayam di atas  ‘singgasana-Nya (‘Arsy. )

Ayat-Ayat Tentang Allah di Atas ‘Arsy

Kabar tentang keberadaan Dzat Allah Yang Mahasuci berada di atas langit, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya ditegaskan dalam banyak ayat, berikut ini adalah beberapa di antaranya:

“(Artinya) Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Yunus: 3]

“(Artinya) Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [QS. Ar-Ra’du: 2]

“(Artinya) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [QS. Thaaha: 5]

“(Artinya) Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” [QS. Al-Furqoon: 59]

Hadits Tentang Allah Di Atas ‘Arsy

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“(Artinya) Sesungguhnya Allah, setelah Dia menetapkan takdir bagi segenap makhluk, Dia menulis sebuah catatan di dalam kitab yang berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy-Nya (yang berbunyi): ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaanku’”. [Bukhari: 6/2700, Muslim: 4/2108. Lih. Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah hal. 351]

‘Arsy berada di atas langit ke tujuh. Ada banyak ayat yang menjelaskan penciptaan tujuh lapis langit ini. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya): “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat”. [QS. Nuh: 15]. “(Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.” [QS. Al-Mulk: 3].

Sedangkan keberadaan ‘Arsy di atas tujuh lapis langit, dijelaskan dalam kisah Isra’-Mi’raj yang derajatnya mencapai mutawatir, yaitu diriwayatkan dari banyak jalur yang kesemuanya shahih [lih. Mukhtasar al-‘Uluw hal. 90]. Dalam peristiwa Isra’-Mi’raj, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam naik bersama Jibril ‘alaihissalam menembus langit dunia, terus naik sampai langit ke tujuh dan Sidratul Muntaha. Kemudian beliau menghadap Allah untuk menerima perintah sholat. Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah  Shallallahu Alaihi wa Sallam menceritakan:

“(Artinya) Maka aku menemui Tuhanku Yang Maha Suci dan Maha Tinggi sementara Dia berada di atas ‘Arsy-Nya”. [lih. Mukhtasar al-‘Uluw hal. 87]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“(Artinya) Sungguh di dalam surga ada 100 tingkatan yang telah disediakan Allah bagi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Setiap tingkatan jaraknya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian meminta, mintalah surga Firdaus, karena sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya ada ‘Arsy ar-Rahman Yang Maha Pemurah, dan darinya bersumber air sungai-sungai di surga.” [Bukhari: 6/2700]

Dalil-Dalil Pendukung

Dalil bahwa Allah bersemyam di atas ‘Arsy, didukung oleh dalil-dalil yang menyatakan atau menyiratkan Kemahaketinggian (al-’Uluw) Allah dan keberadaan-Nya di atas langit, seperti ayat-ayat berikut ini:

“Mereka (para malaikat yang di langit) takut pada Tuhan mereka yang ada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka.” [QS. An-Nahl: 50]

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” [QS. Al-Mulk: 16-17]

“(Artinya) Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” [QS. Al-Ma’arij: 4]

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir....” [QS. Ali Imran: 55]

Adapun keterangan yang datang dari baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalam banyak hadits di antaranya adalah:

 “(Artrinya)Tidakkah kalian percaya kepadaku, padahal aku ini adalah kepercayaan yang ada di langit (yaitu Allah)”. [HR. Bukhari no.4351 Kitabul Maghazi; Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]

Di antara dalil dan bukti yang paling jelas akan keberadaan Allah di atas langit adalah ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada seorang budak wanita: “Di mana Allah?” ia menjawab: “Allah di langit” setelah mendengarnya Nabipun membenarkan dan mengakuinya serta berkata kepada majikannya (Muáwiyah bin Al Hakam As Sulami): “Bebaskanlah ia, karena ia adalah seorang yang beriman” (HR. Muslim. Dengan kisah ini Imam Syafi’i berdalil tentang keberadaan Allah di atas langit, sebagaima dalam Kitab beliau al-Umm: 5/280).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “

 “(Artinya) Kasihi dan sayangilah yang ada dibumi niscaya yang ada dilangit akan mengasihi dan menyayagimu.” (Dikeluarkan oleh Imam Al Hakim di dalam kitab Al Mustadrak hadits no. 7631 dan Al Lalikaa-i di dalam Syarah I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 250) 

Di antara ucapan para Salaf tentang hal ini adalah apa yang dikatakan oleh Imam Al Auza’i Rahimahullah: “Sesungguhnya kami dan para Tabi’in sepakat mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya serta kami mengimani semua hal yang berkaitan dengan sifat Allah sesuai dengan nashnya” (Atsar ini Shahih, dikeluarkan oleh imam Al Baihaqi di dalam kitabnya Al Asma was Shifat hal. 408, dan Imam Adz Dzahabi di dalam kitab Mukhtasar Al ‘Uluw lil Aliyyi Al Ghaffar hal. 138).

Dalam hal ini Imam Syafi’i pun meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya. Beliau mengatakan: “...Sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya...” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitabnya  Adab As Syafi’i wa Manaqibuh hal. 93). Beliau (Imam Syafi’i) juga berkata: “Kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq adalah haq (benar), telah diputuskan oleh Allah dari atas langit-Nya.” [Lih. Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fi Itsbatil ‘Aqidah hal. 456]

Imam Malik Rahimahullah pernah ditanya: “Bagaimana Allah ber-Istiwa (bersemayam) di atas ‘Arsy”? Maka beliau marah, lalu berkata: “Istiwa sudah jelas maknanya, dan bagaimana caranya adalah sesuatu yang tidak diketahui, dan mengimaninya adalah wajib, sementara pertanyaan tentang (bagaimana cara Allah bersemayam) adalah bid’ah. Aku tidak melihatmu kecuali dalam kesesatan.” Kemudian Imam Malik mengusir orang tersebut dari majelisnya. [Kisah ini shahih, lih. Mukhtasar al-’Uluw hal. 141 tahqiq Imam al-Albani]

Catatan Penting

Kita wajib meyakini bahwa Allah tidak butuh kepada ‘Arsy karena ‘Arsy adalah makhluk-Nya. Allah menciptakan ‘Arsy dan memilihnya sebagai singgasana untuk-Nya padahal ia tidak butuh terhadap ‘Arsy, adalah dalam rangka hikmah yang besar dan agung, yang hanya diketahui oleh-Nya. Kita wajib menjauhkan diri dari tasybiih, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dalam hal ini. Kita tidak boleh mengatakan—misalkan saja—: “Allah bersemayam di atas ‘Arsy seperti duduknya seorang Raja di atas singgasananya (Maha Suci Allah dari serupa dengan makhluk-Nya).” Karena Allah berfirman:

“(Artinya) Tidak ada satu pun yang semisal dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. asy-Syura: 11]

Demikian juga kita tidak boleh menolak bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy dengan alasan penyerupaan dengan sifat makhluk. Yakini dan benarkan, jangan ditolak, jangan pertanyakan bagaimana Allah bersemayam, jangan dibayangkan, jangan dimisalkan, serahkan kaifiatnya kepada Allah karena hanya Dia yang tahu. Yang jelas, kaifiat bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy tidak sama dengan makhluk-Nya dan berbeda dengan apa yang kita bayangkan. Inilah aqidah yang saliim (selamat). Wallahua’lam

Sumber bacaan: Mukhtasar al-’Uluw, Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fi Itsbatil ‘Aqidah, dll.

 

 

Komentar
Add New Search RSS
Asalamu'alaikum
Ian (202.152.38.xxx) 04-05-2009 08:06:13

Makalah yang sangat bermanfaat.. Jazakallahu khair..
Selengkapnya
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Yang Online

Terdapat 4 Tamu online

Pengguna

Anggota : 41
Konten : 42
Jumlah Kunjungan Konten : 43621

Situs Sunnah

Kumpulan Situs Sunnah

Pasang Widget ini..

Radio Dakwah