ramadan-6

Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi datang menyapa kita, semoga Allah berkenan mempertemukan kita dengannya. Ramadhan adalah tamu agung dan mulia, padanya ada m...

view-from-heaven

Siapakah Mereka, 70 ribu Orang yang...

Sekalipun umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan umat terakhir yang dikeluarkan oleh Allah Ta`ala, namun Allah Ta`ala sangat memuliakan...

senjaAlhujjah amalan syaban

Amalan Sya’ban

Tidak terasa bulan Sya'ban telah kembali mendatangi kaum muslimin, bulan yang memiliki keutamaan, terletak antara Rajab dan Ramadhan, bulan yang diist...

alhujjahfiqih praktis wudhularge

Fiqih Praktis Wudhu

Sidang pembaca yang budiman, wudhu merupakan kunci memasuki ibadah shalat. Rasulullah bersabda: مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّ...

Tauhid

view-from-heaven

Siapakah Mereka, 70 ribu Orang yang Akan Masuk Surga Tanpa Hisab dan Azab..?

Sekalipun umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan umat terakhir yang dikeluarkan oleh Allah Ta`ala, namun Allah Ta`ala sangat ...

Aqidah

view-from-heaven

Siapakah Mereka, 70 ribu Orang yang Akan Masuk Surga Tanpa Hisab dan Azab..?

Sekalipun umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan umat terakhir yang dikeluarkan oleh ...

Manhaj

redrose2

Enam Tanda Cinta yang Tulus pada Nabi

Setiap dakwaan membutuhkan pembuktian sehingga bisa dikatakan jujur, begitu juga dakwaan cinta pada Rasulullâh shalallahu 'alaihi wasallam, ...

Ibadah

alhujjah amalan rajab

Amalan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang memiliki keutamaan di sisi Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ ...

Akhlak

alhujjahfeather

Menilik perangai kaum muslimin dewasa ini secara umum, maka iffah merupakan salah satu perangai yang tak lagi semarak bahkan dilalaikan. Mak...

Marhaban Yaa Ramadhan

Share Button

Ramadhan sebentar lagi datang menyapa kita, semoga Allah berkenan mempertemukan kita dengannya.

Ramadhan adalah tamu agung dan mulia, padanya ada motivasi (targib) bagi pecinta kebaikan untuk segera memamfaatkannya dalam kebaikan dengan segala bentuknya, padanya ada peringatan dan teguran bagi para pecandu dosa dan kemaksiatan agar menahan diri dari segala jenis dosa yang selama ini terus dinikmati, setan tidak leluasa menggoda sebagaimana pada bulan-bulan yang lain, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta pembebasan dari api neraka bagi hamba-hamba Allah yang Ia kehendaki. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah :

Artinya: “Apabila malam pertama bulan ramadhan telah tiba maka syaithan dan jin yang membangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak satupun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak satupun ditutup, sang penyerupun berseru: wahai yang senantiasa mencari kebaikan kemarilah! Wahai yang senantiasa melakukan keburukan tahanlah dirimu! Dan ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka oleh Allah dan itu (terjadi) pada setiap malamnya”.

Pada edisi kali ini, kami akan membahas beberapa hal yang insya Allah penting untuk kita ketahui sebagai bekal kita memasuki Ramadhan tahun ini dengan izin Allah.

Pengertian Puasa adalah menahan diri yang bersifat khusus, dari hal-hal tertentu, pada waktu tertentu dengan syarat-syarat tertentu. Atau dengan redaksi yang lain, puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar shodiq sampai tenggelamnya matahari.

Hukum puasaRamadhan adalah wajib atas setiap muslim, berakal sehat, balig dan tidak sedang musafir dan bagi wanita tidak sedang haid atau nifas. Allah berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Rukun puasa yang berpengaruh terhadap sah atau tidaknya puasa seseorang ada dua:

  1. berniat di malam hari sebelum sebelum terbit fajar shadiq (sebelum waktu subuh tiba). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya semua amalan hanya tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan (sesuai dengan) apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadist yang lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((مَن لَمْ يُبَيِّت الصِّيَامَ مِن اللَّيلِ فَلاَ صِيامَ لَهُ ))

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa di malam hari maka tidak ada puasa bagi orang tersebut”. (HR. Abu Daud, shahih).

  1. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dll sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari (malam).

Allah berfirman:

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa (menahan diri) itu sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah 187)

Hal-hal yang membatalkan puasa.

Diantara perkara yang membatalkan puasa adalah:

  1. Makan dan minum dengan sengaja.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “barangsiapa yang lupa dalam keadaan berpuasa lalu ia makan atau minum (karena lupa) maka hendaknya ia melanjutkan puasanya, sesungguhnya Allahlah yang telah memberinya makan atau minum”. (HR. Bukhari & Muslim).

  1. Muntah dengan sengaja.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: barangsiapa yang muntah (tak terkendali) maka tidak wajib atasnya untuk mengqada’ dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka ia wajib mengqadha’ puasanya.” (HR. Tirmidzi, Shahih)

  1. Haid dan nifas bagi wanita.

Dari Mu’adzah al Adawiyah bahwasanya ia berkata kepada Aisyah: kenapa yang haid wajib mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat? Aisyah berkata: kami mengalami hal itu (haid) lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan mengqhada’ shalat.” (HR Muslim)

  1. Melakukan hubungan suami istri disiang hari.

Allah berfirman:

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-baqarah: 187)

Bila Allah membolehkan para suami untuk membarengi istri dimalam hari bulan Ramadhan maka itu berarti tidak boleh melakukannya di siang hari.

Menentukan hilal (awal bulan) ramadhan dan hilal bulan syawal.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita dua cara untuk menetapkan awal bulan Ramadhan, yaitu dengan cara ru’yatul hilal atau melihat bulan sabit pada malam ke 30 dari bulan sya’ban, apabila pada malam itu hilal tidak nampak atau tidak terlihat karena cuaca mendung maka cara kedua adalah ikmal yaitu menyempurnakan jumlah bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah t :

(( صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُم فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِين ))

“Berpuasalah karena telah melihatnya (hilal Ramadhan) dan berbukalah (berlebaran) karena melihatnya (hilal Syawal) juga, apabila hilal tidak nampak bagi kalian maka sempurnakan bilangan sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari & Muslim)

Anjuran segera berbuka puasa.

Bila seseorang yakin bahwa matahari telah tengelam maka ia dianjurkan untuk segera berbuka puasa dan tidak menunda-nunda sampai gelap dan bintang muncul. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Orang-orang senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka segera berbuka (puasa).” (HR. Bukhari & Muslim)

Anjuran makan sahur.

Diantara perkara yang dianjurkan bagi yang berpuasa adalah makan sahur dan dilakukan di akhir malam sebelum fajar shadiq terbit. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Makan sahurlah kalian karena pada makan sahur itu ada keberkahan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Selain menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa kita juga harus memperhatikan hal-hal yang bisa mengurangi atau menghapus pahala puasa seperti berbohong.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, perbuatan dusta dan tindakan bodoh maka Allah tidak menghendaki orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah tulisan ringkas yang bisa kami rangkum, semoga bermanfaat.

***

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/4lw8rkl4lcs30qlr37sz929qx708aisx

***

Penulis:
Ust. Zahid Zuhendra, Lc.
(Anggota Dewan Redaksi)

Artikel:alhujjah.com

Facebook Page:
fb.com/alhujjah.ku

Share Button

Siapakah Mereka, 70 ribu Orang yang Akan Masuk Surga Tanpa Hisab dan Azab..?

Share Button

Sekalipun umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan umat terakhir yang dikeluarkan oleh Allah Ta`ala, namun Allah Ta`ala sangat memuliakan serta menyayangi mereka dengan menganugrehkan berbagai bentuk kemulian baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Diantara kemulian dan kasih sayang Allah kepada umat ini di akhirat kelak adalah bahwasanya Allah akan memasukkan sebanyak 70 ribu orang ke dalam surga tanpa melalui penghisaban serta tanpa diazab terlebih dahulu.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat `Imraan bin Husain radhiyallahu `anhuma Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “. قَالَ: فَقَامَ عُكَّاشَةُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ: ” أَنْتَ مِنْهُمْ “. قَالَ: فَقَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: ” قَدْ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “.

“akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab mereka tidak meminta untuk di kay (berobat dengan besi panas), tidak pula meminta untuk diruqyah, serta mereka tidak bertathoyyur (percaya kepada mitos), dan mereka hanya bertawakkal kepada Tuhan mereka, lalu bangunlah Ukkasyah bin Mihshan sambil berkata ya Rasulullah: Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku bagian dari mereka, lalu Rasulullah bersabda: kamu termasuk dari mereka, kemudian bangkit lagi orang lain sambil berkata: ya Rasulullah: berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku bagian dari mereka, maka Rasulullah bersabda: sungguh `Ukkasyah telah mendahuluimu dengannya”. [H.R. Imam Ahmad dan Muslim]

Hadits yang mulia ini memiliki banyak faedah, namun pada kesempatan ini penulis hanya akan menyebutkan satu perkara dari faedah-faedah yang terdapat di dalamnya, yaitu sifat-sifat umat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab

Sifat-sifat umat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang mulia ini adalah:

  1. لَا يَكْتَوُونَ : yaitu mereka tidak meminta orang lain untuk mengobati diri mereka dengan besi panas jika mereka sakit.

Sekalipun berobat dengan besi panas merupakan bagian dari pengobatan yang diperbolehkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, namun beliau membenci hal itu bahkan beliau melarang umatnya untuk melakukannya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الْكَيّ

“Pengobatan itu dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu goresan alat bekam (berbekam), minum madu atau kay (cap penyakit dengan besi panas) dan aku melarang umatku dari kay”. [H.R. Al-Bukhari ]

Karena berobat dengan besi panas termasuk dalam kategori mengazab dengan api dan itu tidak dibenarkan oleh syariat, oleh karenanya seseorang dilarang untuk berobat dengannya kecuali dalam keadaan sangat terpaksa dengan syarat dia tidak meminta kepada orang lain untuk melakukannya dan kalau pun ada orang yang mau membantunya dalam masalah ini maka orang yang membantu tersebut harus betul-betul ahli dalam pengobatan ini, dan hal ini tetap dibenci dan tidak disenangi oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

وَأَنَا أَكْرَهُ الْكَيَّ وَلَا أُحِبُّهُ

“Dan aku membenci kay serta aku tidak menyukainya.” [H.R, Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]

  1. وَلَا يَسْتَرْقُونَ : mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyahnya jika tertimpa sesuatu.

Meminta orang lain untuk mengkay atau meruqyah diri termasuk bagian dari meminta-minta kepada sesama makhluk, dan meminta kepada makhluk terdapat kehinaan. Oleh karenanya orang-orang yang senantiasa bersandar kepada Allah mereka tidak akan pernah merasa butuh kepada makhluk dengan mencukupkan diri bertawakkal kepada Allah semata.

Jadi jika mereka ditimpa oleh sesuatu maka mereka akan meruqyah diri mereka sendiri, begitu pula jika dia terpaksa untuk berobat dengan kay maka mereka akan mengkay diri mereka sendiri dengan tidak meminta-minta kepada orang lain untuk mengkaynya kemudian mereka bertawakkal kepada Allah, dan hal ini merupakan bagian dari kesempurnaan tauhid seseorang.

  1. وَلَا يَتَطَيَّرُونَ: mereka tidak pesimis dengan mitos yang ada, baik dengan sesuatu yang dapat dilihat ataupun yang didengar bahkan yang dapat dicium baunya.

Percaya dengan mitos termasuk perbuatan yang diharamkan oleh syariat karena dia termasuk bagian dari bentuk kesyirikan, yang mana dia tidak dapat dihilangkan kecuali dengan bertawakkal kepada Allah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Mitos merupakan kesyirikan, dan tidak ada seorangpun diantara kita melainkan mereka terpengaruh dengannya, namun Alloh akan menghilangkan pengaruh tersebut dengan tawakkal.” [H.R. Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Maajah dan dishahihkan oleh Al-Albani]

  1. وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ: mereka senantiasa bertawakkal kepada Tuhan mereka dalam segala hal dan keadaan dan tidak bersandar kepada selainNya, karena orang yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan selalu mencukupkan kebutuhannya,

Allah Ta`ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [Q.S, Ath-Tholaaq: 3]

Inilah empat sifat yang tertanam pada tujuh puluh ribu umat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Perlu kita ketahui juga bahwasanya ada tujuh puluh ribu orang lagi bersama setiap seribu orang dari mereka sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau:

وَعَدَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا وَثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ

“Tuhanku `Azza wa Jalla telah menjanjikanku untuk memasukkan dari umatku tujuh puluh ribu orang ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab, dalam setiap seribu orang ada tujuh puluh ribu orang bersama mereka, dan tiga kali cidukan dari cidukan Tuhanku Azza wa Jalla.” [H.R, Imam Ahmad dan Ibnu Maajah dari jalur Abu Umamah Al-Baahily rodhiyallahu `anhu dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Ibnu Al-Atsir mengatakan ini merupakan kinayah tentang sangat banyaknya jumlah mereka, dan ini menunjukkan betapa banyaknya jumlah mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab dari umat Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah menjadikan kita sebagai bagian dari mereka dengan menanamkan sifat-sifat ini pada diri kita, amiin.

Washallillahu `alaa Sayyidinaa Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallim, wa aakhiru da`waanaa anilhamdulillahi Rabbil `Aalamiin.

Wallahu A’lam

***

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/1db0od6hcoo4udznuk0pvpvakq0rl167

Penulis:
Ust. Masyhuri Badran, Lc.
(Anggota Dewan Redaksi al-Hujjah)

Share Button

Amalan Sya’ban

Share Button

Tidak terasa bulan Sya’ban telah kembali mendatangi kaum muslimin, bulan yang memiliki keutamaan, terletak antara Rajab dan Ramadhan, bulan yang diistimewakan oleh Rasulullah dengan memperbanyak puasa, bulan yang menyita perhatian para salafus shalih dengan mengisinya untuk melakukan berbagai ibadah dan amal shalih sebagai persiapan untuk menyonsong bulan suci Ramadhan.

Berikut beberapa amal ibadah yang biasa dilakukan Rasulullah dan as-Salaf as-Shalih di bulan Ini:

1.Memperbanyak Puasa

Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan ini tidak seperti beliau berpuasa pada bulan-bulan yang lain.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Dari Aisyah-radhiallahu anha-bahwasanya dia berkata, “Rasulullah berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada yang beliau lakukan di bulan Sya’ban.”(HR.Bukhari no.1969, Muslim no.1156).

2.Memperbanyak Baca al-Qur’an

Membaca al-Qur’an hendaknya mulai kita perbanyak semenjak bulan Sya’ban, sehingga ketika bulan Ramadhan datang kita bisa lebih meningkatkan lagi bacaan al-Qur’an kita, salah seorang tabi’in yang mulia Salamah bin Kuhail-rahimahullah-berkata:

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

“Dulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulannya pembaca Al-Qur’an.”
Begitu pula yang dilakukan oleh Amr bin Qais-rahimahullah-beliau meluangkan banyak waktu untuk membaca al-Qur’an semenjak bulan Sya’ban, bahkan beliau sampai menutup toko beliau dan memfokuskan diri untuk membaca al-Qur’an.(Latha’if al-Ma’arif hlm.138).

3.Selalu Menjauhi Perbuatan Syirik dan Permusuhan di Antara Sesama Muslim

Rasulullah menyebutkan bahwa Allah-subhanahu wa ta’ala-akan mengampuni dosa orang-orang yang tidak berbuat syirik dan orang-orang yang tidak memiliki permusuhan dengan saudara seagamanya khususnya di malam pertengahan bulan Sya’ban. Rasulullah bersabda:

يَطَّلِعُ اللهُ إِلىَ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ, إِلاَّ مُشْرِك أَوْ مُشَاحِن

“Allah melihat kepada makhluknya pada malam pertengahan bulan Sya’ban dan mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang memiliki permusuhan (dengan muslim yang lain).”(HR.at-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Majah dan lainnya, dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no.1819, lihat: Silsilah al-Ahadits as-Shahihah: 3/135).
Senada dengan riwayat ini, dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis dan akan diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali orang yang memiliki permusuhan antara dia dengan saudaranya. Lantas dikatakan,

‘Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai.”(HR.Muslim no.2565, 6544).

4.Mengerjakan Berbagai Amal-amal Shalih

Setiap saat kita berusaha untuk meningkatkan amal shalih kita. Untuk menghadapi bulan Ramadhan para ulama terdahulu membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Sya’ban , sehingga mereka sudah terlatih untuk menambahkan amalan-amalan mereka ketika bulan Ramadhan tiba. Abu Bakr Al-Balkhi-rahimahullah-pernah mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Sya’ban adalah bulan memanen tanaman.” Dan dia juga mengatakan:

مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ كَالرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ اْلمطَرِ، وَمَنْ لَمْ يَزْرَعْ وَيَغْرِسْ فِيْ رَجَبٍ، وَلَمْ يَسْقِ فِيْ شَعْبَانَ فَكَيْفَ يُرِيْدُ أَنْ يَحْصِدَ فِيْ رَمَضَانَ.

“Perumpamaan bulan Rajab adalah laksana angin, bulan Sya’ban laksana awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan laksana hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyirami tanamannya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasil tanamannya di bulan Ramadhan.”(Latha’if al-Ma’arif hlm.130).

Sudah selayaknya setiap muslim menggunakan waktunya semaksimal mungkin dalam mengerjakan berbagai amal shalih dan ibadah, apalagi di bulan Sya’ban ini, sebagaimana yang telah dipaparkan bahwa ternyata para as-Salafus Shalih mengisi waktu-waktu mereka di bulan Sya’ban ini dengan berbagai amal kebaikan yang disyari’atkan. Seorang muslim sejati selayaknya tidak menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang tidak ada dasarnya atau bersandar pada hadits-hadits dha’if (lemah) bahkan maudhu’ (palsu), terkait dengan bulan Sya’ban ini, tidak ada satu pun dalil yang shahih yang menyebutkan keutamaan shalat malam atau shalat sunnah tertentu di pertengahan malam di bulan Sya’ban . Baik yang disebut shalat alfiyah (seribu rakaat), dan shalat raghaib, Mengkhususkan malam tersebut dengan ibadah-ibadah tersebut adalah perbuatan yang tidak disyari’atkan.

Imam An-Nawawi as-Syafi’i-rahimahullah-mengatakan tentang shalat Ar-Raghaib yang dilakukan pada Jumat pertama di bulan Rajab dan malam pertengahan bulan Sya’ban, “Kedua shalat ini adalah bid’ah yang tercela, yang mungkar lagi buruk.”(Majmu’ Syarah al Muhadzdzab: 22/272).

Wallahu A’lam

***

Penyusun : Ustadz Saparudin, Lc.

(Staf Pengajar Ponpes Abu Hurairah Mataram)

Download PDF Alhujjah 12 –  Amalan Sya’ban

https://app.box.com/s/j9heqjlprppahctb6mai4hllh95vpwyr

Share Button

Fiqih Praktis Wudhu

Share Button

Sidang pembaca yang budiman, wudhu merupakan kunci memasuki ibadah shalat. Rasulullah bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Artinya: “Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkan (dari kegiatan selain shalat) adalah takbiratul ihram, dan yang menghalalkannya adalah salam.” [HR. Ibnu Majah: 276, dishahihkan oleh al-Albani]. Lanjut Baca>>

Share Button

Waspada Bahaya ISIS & Syi’ah

Share Button

Saat ini dunia Islam tengah diterpa ujian teramat dahsyat dari dua kutub bencana yang berlawanan arah. Kutub bencana yang satu bernama Khawarij (yang kini menjelma dalam wujud kelompok ISIS), sementara kutub bencana yang lain bernama Syi’ah. Masing-masing kutub ini punya prinsip-prinsip kelompok yang jauh bertolak belakang satu sama lain. Namun keduanya bersepakat dalam satu hal. Apakah itu…?? Sebelumnya, mari sekilas mengenal siapa Khawarij dan siapa Syi’ah. Lanjut Baca>>

Share Button