tata cara tayammum

Berkurban untuk Selain Allah

Oleh: Ust. Masyhuri Badran, Lc. *** Menyembelih hewan merupakan ibadah yang dipersembahkan hanya kepada Allah Sesungguhnya menyembelih hewan baik...

1

Dzkir Pagi-Petang: Keutamaan, Makna...

Oleh: Ust. Ahmad Firdaus, Lc. *** Dzikir adalah ibadah yang paling mulia yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, ia merupakan cara yang terbaik ...

1

BERANI BERGANTUNG PADA SELAIN ALLAH...

Oleh: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc. ------ Salah satu yang sangat indah dalam agama kita yang merupakan bagian terdepan dari ketaqwaan adalah T...

38

JANGAN PERNAH BOSAN Ngaji TAUHID

Sungguh hati kita harus senantiasa diingatkan akan tauhid. Coba renungkan kisah Musa 'alaihissaläm dalam membebaskan Bani Isräil dari penindasan Fir'a...

Tauhid

tata cara tayammum

Berkurban untuk Selain Allah

Oleh: Ust. Masyhuri Badran, Lc. *** Menyembelih hewan merupakan ibadah yang dipersembahkan hanya kepada Allah Sesungguhnya menyembelih ...

Aqidah

tata cara tayammum

Berkurban untuk Selain Allah

Oleh: Ust. Masyhuri Badran, Lc. *** Menyembelih hewan merupakan ibadah yang dipersembahkan hanya...

Manhaj

Happy-New-Islamic-Year-Wishes-Quote

BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MEMAKNAI TAHUN BARU ISLAM

Tahun baru Islam yang biasa dirayakan oleh kaum Muslimin jatuh pada bulan Muharram, salah satu bulan haram, Nabi ﷺ bersada: “Sesungguhnya za...

Ibadah

1

Dzkir Pagi-Petang: Keutamaan, Makna, & Cara Mengamalkan

Oleh: Ust. Ahmad Firdaus, Lc. *** Dzikir adalah ibadah yang paling mulia yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, ia merupakan cara yan...

Akhlak

alhujjahfeather

Menilik perangai kaum muslimin dewasa ini secara umum, maka iffah merupakan salah satu perangai yang tak lagi semarak bahkan dilalaikan. Mak...

Berkurban untuk Selain Allah

Share Button

Oleh: Ust. Masyhuri Badran, Lc.

***

Menyembelih hewan merupakan ibadah yang dipersembahkan hanya kepada Allah

Sesungguhnya menyembelih hewan baik untuk dijadikan sebagai sembelihan biasa atau untuk dijadikan hewan qurban dia merupakan bagian dari ibadah yang telah Allah perintahkan kepada baginda Rasulallah shallallahu `alaihi wa sallam dalam firman0-Nya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” [Q.S, Al-Kautsar: 2]

Ayat yang mulia ini sekalipun merupakan perintah untuk Nabi shallallahu `alaihi wa sallam namun hukumnya bersifat umum yang berlaku juga bagi umatnya.

Karena menyembelih hewan atau kurban merupakan bagian dari ibadah maka dia harus dipersembahkan hanya kepada Allah semata, seperti halnya ibadah-ibadah yang lain, Allah Ta`ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadah (sembelihan)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [Q.S, Al-An`aam: 162-163].

Segala bentuk sembelihan tidak akan sampai darah dan dagingnya kepada Allah

Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar semua bentuk ibadah termasuk menyembelih dan kurban hanya dipersembahkan untuk Allah semata sekalipun darah dan daging dari sembelihan tersebut tidak akan pernah sampai kepada Allah, dan yang sampai hanyalah ketakwaan, keikhlasan serta amal shalih semata sesuai dengan firman Allah yang mengatakan:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat sampai kepada Allah, tetapi Ketakwaan dari kalianlah yang dapat sampai kepada-Nya.” [Q.S, Al-Hajj: 37]

Kurban kepada selain Allah termasuk kesyirikan yang tidak akan diampuni

Mempersembahkan ibadah kepada selain Allah termasuk menyembelih dan berkurban merupakan bagian dari kesyirikan yang tidak akan diampuni oleh Allah sampai pelakunya bertaubat sebelum ajalnya tiba, Allah Ta`ala berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dosa syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” [Q.S, An-Nisaa': 48 dan 116].

Laknat Allah untuk orang yang mempersembahkan sesembelihan kepada selain-Nya

Bahkan orang yang menyembelih untuk selain Allah akan mendapatkan laknat Allah seperti apa yang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sabdakan:

وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” [H.R, Muslim dari jalur Ali bin abi Thalib radhiyallahu `anhu]

Sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ini mencakup perkara-perkara berikut ini:

  1. Apa yang disembelih untuk berhala dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepadanya,
  2. Apa yang disembelih dengan tujuan untuk dijadikan sebagai daging biasa namun disebut nama selain Allah Ta`ala tatkala menyembelih,
  3. Apa yang disembelih dengan tujuan untuk mengagungkan makhluk serta sebagai penghormatan baginya ketika mereka turun dan sampai ke tempat penyambutannya,
  4. Apa yang disembelih ketika tidak turunnya hujan di tempat tertentu atau di kuburan dengan tujuan agar hujan turun,
  5. Apa yang disembelih ketika menempati rumah karena takut dari gangguan jin,

Kelima hal di atas termasuk dalam kategori menyembelih untuk selain Allah, dan ini tergolong dalam kesyirikan. [I`aanatu Al-Mustafiid Bisyarhi Kitaab At-Tauhiid: 1/225-226]

Persembahan kepada selain Allah merupakan penyebab masuk neraka

Karena memperembahkan sembelihan untuk selain Allah termasuk bagian dari kesyirikan dan penyebab untuk mendapatkan laknat Allah maka sekecil apapun bentuk sesembahan kepada selain Allah itu akan menyebabkan pelakunya masuk neraka sekalipun hanya dengan seekor lalat, hal ini seperti apa yang dijelaskan dalam riwayat yang mauquf dari jalur Thariq bin Syihab dari Salman radhiyallahu `anhu beliau berkata:

“seseorang masuk surga dengan sebab seekor lalat, dan seorang yang lain masuk neraka dengan sebab seekor lalat. Orang-orang bertanya kepada beliau (Salman radhiyallahu `anhu): “bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau mengatkan: “lewat dua orang di sebuah kaum yang memiliki berhala, tidak ada seorang pun yang boleh melaluinya sampai dia mempersembahkan sesuatu untuk berhala itu, kemudian kaum itu mengatakan kepada salah seorang dari dua orang itu: “berikan persembahan (sesajen)”, dia berkata: “aku tidak memiliki sesuatu yang akan ku persembahkan.” Kaum itu mengatakan: “persembahkan walaupun hanya seekor lalat.” Dia pun mempersembahkan seekor lalat. Lalu kaum itu membiarkan dia pergi, maka dia pun masuk neraka, dan kaum tersebut berkata kepada yang lainnya: “berikanlah persembahan (sesajen).” maka dia pun menjawab: “aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk seseorang selain Allah `Azza wa Jalla.” lalu kaum itu membunuhnya dan dia pun masuk surga.” [H.R, Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhud]

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufiq untuk selalu mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepadaNya semata dan menjauhkan diri kita, keluarga serta semua keturunan kita dari segala bentuk kesyirikan, Amiin.

***

Share Button

Dzkir Pagi-Petang: Keutamaan, Makna, & Cara Mengamalkan

Share Button

Oleh: Ust. Ahmad Firdaus, Lc.

***

Dzikir adalah ibadah yang paling mulia yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, ia merupakan cara yang terbaik bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, amalan yang paling mulia bagi setiap hamba untuk mengisi waktu dan menyibukkan diri, ia adalah amalan yang ringan yang mendatangkan pahala yang besar dan cara yang paling agung untuk mendatangkan manfaat serta menolak mudharat baik dalam kehidupan dunia terutama kelak di akhirat. Allah Ta’ala berfirman menjanjikan ampunan dan ganjaran yang besar bagi hamba-Nya yang banyak berdzikir:

والذكرين الله كثيرا والذكرت أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما

“Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang makna ayat di atas: “Maksudnya adalah orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah setiap selesai shalat fardhu, pagi dan petang, ketika hendak tidur dan bangun tidur, dan setiap pergi atau kembali ke rumahnya ia berdzikir kepada Allah.”

Begitu juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam banyak hadist tentang keutamaan banyak berdzikir. Di antaranya adalah hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ، قَالُوْا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : اَلذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ.

“Telah menang para Mufarridun,” para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan Mufarridun?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang (laki/perempuan) yang banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim).

Di antara dzikir yang dianjurkan untuk kita jaga dan amalkan adalah dzikir pagi dan petang, di sini akan kita sebutkan salah satu dari dzikir pagi dan petang, serta akan kita jelaskan makna, fadhilah serta cara mengamalkannya sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

***

Dari Usman Bin Affan Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan pada setiap pagi dan petang:

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِي اْلأرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

(Dengan menyebut nama Allah, yang dengan Nama-Nya tidak ada sesuatu yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) Sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan dimudharatkan oleh sesuatu apapun.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)

Kandungan makna dzikir

Dzikir ini mengandung makna yang agung, sebagaimana disebutkan dalam kitab ‘Mirqatul Mafatiih Syarah Misykatul Mashabih’ ketika pensyarah menjelaskan makna dzikir, ‘(Dengan menyebut nama Allah) yaitu aku meminta tolong serta aku menjaga diri dari segala hal yang menyakitkan dengan menyebut nama Allah, (yang dengan Nama-Nya tidak ada sesuatu yang membahayakan) yaitu dengan menyebut Nama-Nya dengan keyakinan yang baik dan niat yang ikhlas, (baik di bumi maupun di langit) yaitu dari musibah-musibah yang menimpa baik dari bumi maupun dari langit, (dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) yaitu Allah Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-Nya dan Maha Mengetahui segala perbuatan dan keadaan mereka.’

Manfaat dan faidah dzikir

Manfaat dan faidah yang didapatkan dari dzikir ini sangatlah besar yaitu bisa mencegah bahaya dan bencana yang mendadak -dengan izin Allah- sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas.

Imam al-Qurtubi mengatakan tentang hadist ini: “ini adalah hadist yang shahih dan perkataan yang benar, kami mengetahui dalilnya dengan bukti dan praktek, sesungguhnya semenjak saya mendengar hadist ini saya mengamalkannya, dan tidak ada sesuatu yang memudharatkan saya hingga saya meninggalkannya, maka saya disengat oleh kalajengking pada suatu malam di Madinah, maka sayapun berfikir ternyata saya lupa membaca dzikir tersebut.” (Fiqhul Ad’iyati wal Azdkar oleh Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr)

Begitu juga disebutkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya, pada saat Abban bin Usman Radiyallahu ‘anhu (perawi hadist) ditimpa penyakit lumpuh, seorang yang mendengar hadist ini darinya mempelototinya keheranan, lalu ia menegur: “kenapa engkau mempelototi aku ? Demi Allah aku tidak berbohong terhadap Usman Radhiyallahu ‘anhu, dan Usmanpun tidak berbohong terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi aku ditimpa penyakit yang telah menimpaku ini pada saat diriku marah dan lupa membaca dzikir ini.”

Catatan penting yang disebutkan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman As-Sadhan tentang kisah Abban Radhiyallahu ‘anhu di atas, beliau mengatakan: “Hal ini menunjukan bahwa, sikap marah, tempramental yang labil; baik rasa sedih, takut, ketawa dan tangis atau terjebak dalam syahwat dan kelalaian adalah sebab-sebab yang bisa menghalangi fungsi wirid ini sebagai benteng diri, bahkan bisa merusak fungsi tersebut, baik karena setan membuat orang tersebut lalai saat temperamen yang tidak menentu tersebut datang, khususnya marah, marah berasal dari setan dan inilah yang terjadi pada Abban Radhiyallahu ‘anhu, atau fungsi tersebut menjadi lemah karena adanya temperamental yang labil tersebut. Maka tidak mengherankan jika seseorang tertimpa oleh sesuatu padahal ia telah membaca wirid, hal itu karena ia telah membuat celah bagi setan yang dimanfaatkan untuk masuk darinya.” (Al-Hishnul Waqi)

Cara mengamalkan dzikir ini sesuai Sunnah Rasulullah

Disunnhahkan membaca dzikir ini tiga kali pada waktu pagi yaitu waktu setelah subuh hingga terbit matahari, namun jika seseorang lupa membacanya pada waktu tersebut karena ada suatu halangan maka tidak mengapa ia membacanya walaupun setelah terbit matahari, begitu juga disunnahkan membacanya tiga kali pada waktu petang yaitu dari setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari, namun jika lupa atau karena ada halangan maka boleh ia membacanya walaupun setelah terbenam matahari. (Fiqihul Adiyah wal azkar)

Inilah salah satu dzikir pagi dan petang –masih banyak dzikir-dzikir yang lain- yang memiliki faidah yang besar untuk kita menjaga dan membentengi diri dari berbagai bahaya dan musibah yang datang dengan tiba-tiba –dengan izin Allah-, semoga Allah menjaga kita semua dan memudahkan kita untuk menghafal dan memperbanyak berdzikir kepada –Nya serta memberikan ganjaran pahala berupa surga kelak di akhirat.

Wallahu A’lam

***

 

Share Button

BERANI BERGANTUNG PADA SELAIN ALLAH…??

Share Button

Oleh: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc.
——

Salah satu yang sangat indah dalam agama kita yang merupakan bagian terdepan dari ketaqwaan adalah Tawakal kepada Allah, menggantungkan diri hanya kepada Allah adalah hal yang disepakati oleh setiap muslim. Bahkan setiap manusia sangat membutuhkan tempat untuk bergantung dan mengharap.
Setiap muslim harus meyakini bahwa hanya Allah lah yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan. Orang-orang musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  pun tahu bahwa hanya Allah lah yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan, namun mereka memohon dan berharap kepada selain Allah karena hawa nafsu mereka untuk mempertahankan kesalahan nenek moyang mereka.

Allah berfirman:

قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Katakanlah (hai Muhammad kepada orang-orang musyrik) : “terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemadhoratan kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menghilangkan kemadhorotan itu ?, atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmatNya ?”, katakanlah : “cukuplah Allah bagiku, hanya kepada-Nya lah orang orang yang berserah diri bertawakkal.” [QS. Az zumar: 38]

Al-Imam Muqatil berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka (sesuai yang diperintahkan Allah) namun mereka orang-orang musyrik terdiam, tidak menjawab karena mereka tidak meyakini bahwa tempat mereka meminta dan berharap mampu melakukan hal tersebut.”

Dari pertanyaan Allah ini, sangat jelas bisa dipahami bahwa jika kita mengakui tempat kita meminta dan mengharap tersebut tidak mampu melawan kekuasaan Allah maka kenapa mesti kita menyeru dan mengharap pada mereka? Kenapa kita tidak berharap, memohon dan bergantung hanya kepada Allah yang Mahakuasa atas segala sesuatu!? Kenapa kita tidak langsung bermunajat kepada Allah dan berdoa kepada-Nya padahal Dia telah memerintahkan kita untuk berhubungan langsung kepada-Nya?. Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.” (Al-Mukmin: 60)

Jawabannya: Tentu bisikan syaithanlah yang membuat kita berpaling dari Dzat yang Mahaagung, yang Mahapemurah, yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.

Sayangnya diantara kaum muslimin ada juga yang mengikuti jejak orang-orang musyrik, dengan mengharap dan berdoa kepada selain Allah, seperti penunggu gunung, penunggu tempat-tempat angker, penunggu pohon-pohon dan lautan. Na’udzubillah. Inilah inti dari kesyirikan orang-orang musyrik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang bisa kita pahami dari Firman Allah di Surat az-Zumar; 38.

Semisal dengan ini, juga perbuatan sebagaian orang yang memakai gelang untuk menolak bala, menolak penyakit dan gangguan jin, memakai jimat dengan segala macam modelnya.
Mari kita perhatikan bagaimana kerasnya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang yang berbuat seperti ini.

Imron bin Husain menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya : “Apakah itu ?”, orang tersebut  menjawab : “gelang penangkal penyakit,” lalu Nabi bersabda : “lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama lamanya.” (HR. Ahmad)

Tergambar dalam benak orang-orang yang memakai penangkal maupun jimat, bahwa jimat mereka mendatangkan manfaat dan membendung kemudharatan. Akan tetapi jika mereka ditanya seperti pertanyaan Allah di Surat Az-Zumar; 38, mereka akan terdiam atau mereka akan menjawab: “tentu saja, jika Allah berkehendak lain, jimat dan penangkal tersebut tidak akan bermanfaat.” Lantas buat apa kita memakai jimat jika manfaat dan mudarat itu hanya tergantung pada kehendak Allah ?
Bukankah itu hanya menambah beban untuk kita, membuat kita berpaling kepada selain Allah ?

Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa penangkal dan jimat hanya akan menambah kelemahan pada diri seseorang. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah banyak mengajarkan kita cara berdoa langsung kepada Allah untuk melindungi kita, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.
Berdoa, berharap dan bergantung hanya kepada Allah adalah sebab yang paling manjur, sebab yang dihalalkan dan disyariatkan, sedangkan jimat dan penangkal adalah sebab yang diharamkan bahkan digolongkan sebagai perbuatan menyekutukan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh kaum musyrik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sangat jelas dari hadits di atas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sahabat yang memakai penangkal untuk melepaskannya dan mengatakan bahwa jika ia masih memakainya sampai meninggal dan tidak bertaubat kepada Allah, maka ia tidak akan beruntung selama-lamanya.
Artinya ia akan mendapat kerugian selama-lamanya, yaitu kerugian dicampakkan dalam neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من تعلق تميمة فقد أشرك

“Barang siapa yang memakai penangkal maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dan al-Hakim dari sahabat Uqbah bin Amir al-Juhani beliau berkata: “Pernah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serombongan orang, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaiat sembilan orang diantara mereka masuk dalam agama Islam, dan menahan satu orang. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa engkau membaiat 9 orang dan tidak membaiat yang satu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ia memakai penangkal. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan tangan beliau dan memotong penangkal tersebut, kemudian beliau bersabda:
“Barang siapa yang memakai penangkal maka ia telah melakukan kesyirikan.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ia melihat seorang laki-laki yang ditangannya ada benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan benang itu seraya membaca firman Allah:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan sesembahan lain ).” (QS. Yusuf, 106).

Dari ayat dan hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa memakai jimat dalam bentuk apapun, merupakan perbuatan syirik (menyekutukan) Allah.

______
Yuk di-share…!! Download versi Buletinnya
https://app.box.com/s/og0mn6kl7vws25kkatjhesfy5z1utqk8

Share Button

JANGAN PERNAH BOSAN Ngaji TAUHID

Share Button

Sungguh hati kita harus senantiasa diingatkan akan tauhid. Coba renungkan kisah Musa ‘alaihissaläm dalam membebaskan Bani Isräil dari penindasan Fir’aun. Bani Isräil melihat langsung mukjizat-mukjizat besar dari Alläh. Yang terakhir—menjelang kebinasaan Fir’aun—, mereka melihat laut terbelah dengan mata kepala mereka. Namun apa yang terjadi setelah mereka diselamatkan Alläh…?? Begitu cepat tauhid mereka lupakan. [lih. Tafsïr as-Sa’di: 302]. al-Qur’än mengabarkan:

“Dan Kami seberangkan Bani Isräil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsräil berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang jahil”. [QS. Al-A’räf: 138]

Jika demikian cepat Bani Isräil bisa melupakan tauhid, padahal mereka telah melihat langsung mukjizat besar Nabi mereka, maka bagaimana lagi dengan keadaan kita yang belum pernah melihat mukjizat Nabi, juga belum pernah menemani dan melihat Nabi..?? Apakah kita bisa terjamin dari melupakan tauhid…?? Tentu kita lebih beresiko untuk meninggalkan tauhid. Untuk itulah tema-tema tauhid harus selalu kita kaji.

***

Segenap amal yang tidak berdiri di atas tauhid dan akidah yang benar, hanyalah sia-sia. Sedikitpun tidak akan mendatangkan manfaat yang berarti bagi pelakunya. Tidak di dunia, tidak pula di akhirat.
“Dan Kami hadapkan segala amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan musnah seperti debu yang berterbangan.” [QS. Al-Furqän: 23].

Dalam ayat tersebut, Alläh tidak menafikan keberadaan amal kebaikan yang pernah mereka lakukan di dunia. Amalan mereka ada. Namun semua itu sia-sia. Gara-gara amal tersebut tidak di atas tauhid, tidak dipersembahkan sebagai ketaatan hanya untuk Alläh semata-mata. [lih. Mukhtashar Tafsïr Ibn. Katsïr: 2/629].

Ancaman musnahnya amalan ini, bahkan Alläh arahkan kepada kekasih-kekasih-Nya yang Dia cintai dari kalangan Nabi dan Rasul, tidak terkecuali kekasih-Nya yang paling istimewa, Muhammad r:

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu berbuat syirik (dengan beribadah kepada selain Alläh di samping juga kepada Alläh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar: 65]

Jika hamba-hamba pilihan semisal Nabi dan Rasul masih diingatkan dan diwanti-wanti oleh Alläh dari kesyirikan (sebagai pambatal tauhid), maka manusia selain mereka tentu lebih butuh mendapat peringatan akan pentingnya tauhid dan bahayanya syirik.

Itulah sebabnya mengapa seluruh Rasul memfokuskan dakwahnya pada tauhid, bahwa hanya Dia semata yang berhak diibadahi dengan segenap macam ibadah yang haq. Seseorang belumlah dikatakan bertauhid jika hanya shalat untuk Alläh, puasa, zakat, dan haji karena Alläh, namun di saat yang sama dia masih menyembelih kurban untuk selain Alläh (kepada jin, kuburan keramat, dukun, dll).

“Sungguh Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap ummat, yang menyerukan; ‘Sembahlah hanya Alläh semata, dan jauhi thagüt (yaitu kesyirikan, segala sesuatu yang diibadahi selain Alläh).” [QS. An-Nahl: 36].

***

Begitu takutnya Nabi kita yang mulia dari kesyirikan yang bisa menimpa ummatnya, hingga sampai menjelang wafat pun, Nabi tetap mengingatkan akan tauhid dan mewanti-wanti bahaya kesyirikan. Jundub bin ‘Abdilläh al-Bäjili radhiallähu’anhu meriwayatkan bahwa lima hari sebelum wafatnya, Rasülulläh r sempat bersabda:

“Sungguh orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangan sampai kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sungguh aku benar-benar melarang kalian dari hal tersebut.” [Shahïh Muslim: 532]

Khalïlulläh Ibrähïm ‘alaihissaläm bahkan menginginkan anak turunannya senantiasa dijauhkan dari kesyirikan sepeninggalnya. Do’a beliau berikut ini terabadikan dalam al-Qur’än:

“Yä Rabb, jadikanlah negeri Makkah ini aman, dan jauhkanlah aku berikut anak keturunanku dari penyembahan pada berhala-berhala.” [QS. Ibrähïm: 35]

Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa tauhid senantiasa mendapatkan perhatian yang besar oleh para Nabi dan Rasul, tidak hanya sepanjang hidup mereka, tapi juga setelah kehidupan mereka berakhir di dunia.

***

Ceramah-ceramah motivasi yang kosong dari nilai-nilai tauhid dan penghambaan pada Alläh, cenderung melahirkan amalan musiman dari kaum egois; yang hanya bangkit beramal jika melihat ada manfaat duniawinya semata, jika tidak, amalannya pun akan terhenti, dan tak lagi berkesinambungan.

Di sinilah pentingnya kita selalu mengkaji tauhid. Karena dengan tauhid, hati akan selalu tentram dalam keyakinan dan keistiqomahan. Amalan mereka–yang tidak pernah bosan mengkaji tauhid–selalu ada dan berkesinambungan, sekalipun sedikit. Maka saat kita merasa tak lagi istiqomah dalam suatu amalan, besar kemungkinan hati kita sudah lama kering dari siraman-siraman kajian bertema tauhid.

Ibnul Qayyim (wafat: 751-H) rahimahulläh dalam kitabnya Madärij as-Sälikïn, memaparkan bahwa istiqomah itu mencakup 5 unsur. Dan unsur yang pertama dan utama adalah tauhid. Beliau mengatakan:

الأول: إفراد المعبود سبحانه وتعالى بالإرادة، من الأفعال والأقوال والنيات وهو الإخلاص

“Unsur pertama istiqomah adalah; mengesakan Alläh subhänahu wa ta’äla dalam kehendak, perbuatan, ucapan, dan niat. Itulah keikhlasan.”
Intinya, keistiqomahan akan kokoh dengan kokohnya tauhid, dan akan melemah seiring melemahnya tauhid. Untuk itulah tauhid harus senantiasa dikaji.

***

Saat kita merasa bahwa kajian-kajian tentang tauhid dan akidah sudah mulai membosankan, maka di saat itulah kita harus menuduh hati kita. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya. Karena hati, ibarat pepohonan, butuh mutlak pada akar dan pokok batang yang sehat untuk bisa tumbuh, lalu berkembang. Kedudukan tauhid dan akidah pada hati, seperti kedudukan akar dan pokok batang pada pepohonan. Tauhid dan akidah yang rusak, ibarat akar dan pokok batang yang rusak. Tauhid dan akidah yang terlupakan, laksana akar dan pokok batang pohon yang terlupakan pula. Untuk itulah tauhid dan akidah harus senantiasa kita kaji dan kita amalkan, tanpa ada batas akhir.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [yakni: kalimat tauhid] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit ** pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [QS. Ibrähïm: 24-25].

***

Oleh: Abu Ziyan Johan Saputra Halim​

Yuuk, berbagi kebaikan. Download dan share buletin terbaru alhujjah.com:

https://app.box.com/s/e3e0x7xavlzzezj2g5j9tv9jl0dfz6md

Share Button

AYAT KURSI, KANDUNGAN DAN PENGAMALANNYA

Share Button

Surat dan ayat al-Qur’an semuanya agung dan mulia. Namun, Allah Y dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah ayat kursi. Dalam Shahih Muslim dari sahabat Ubai bin Ka’ab -radhiallahu anhu-, Rasulullah -r- bersabda:

“Wahai Abul Mundzir -kunyah Ubai bin Ka’ab-, tahukah engkau ayat apa yang paling mulia yang telah engkau hafal di dalam Alquran?” Ubai menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih mengetahui.” Beliau mengulangi pertanyaannya, “Wahai Abul Mundzir, tahukah engkau ayat apa yang paling mulia yang telah engkau hafal di dalam Alquran?” Lalu Ubai menjawab, “Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum…” Rasulullah bersabda, “Demi Allah, wahai Abul Mundzir, semoga engkau berbahagia dengan ilmu yang engkau miliki.” (HR.Muslim no.810).

Ayat kursi adalah ayat yang terdapat dalam surat al-Baqarah:255:

للَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar“.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan tentang ayat kursi ini: “Ayat kursi ini memiliki kedudukan yang sangat agung. Dalam hadits shahih dari Rasulullah-r-disebutkan bahwa ia merupakan ayat yang paling  agung yang terdapat dalam Al-Quran…” kemudian beliau membawakan riwayat Ubai bin Ka’ab di atas. (Tafsir al-Quran al-Azhim, tafsir al-Baqarah : 255).

Syaikh As Sa’di-rahimahullah-menjelaskan: “Ayat yang mulia ini merupakan ayat al Quran yang paling agung, paling utama, dan paling mulia. Hal ini karena ayat ini mengandung penjelasan perkara-perkara yang agung dan sifat-sifat Allah yang mulia. Oleh karena itu banyak hadist yang menganjurkan kita untuk membaca ayat ini dan menjadikannya sebagai wirid yang dibaca saat pagi dan sore, ketika hendak tidur, dan setelah sholat fardhu.” (Taisir al-Karimir Rahman, tafsir al-Baqarah: 255).

Kandungan Makna Ayat Kursi
————-
Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan intisari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya yang maknanya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah, di mana konsekuensinya tidak boleh mempersembahkan ibadah apapun kepada selain Allah.

Ayat yang mulia dan berkah ini memiliki makna yang agung dan luas, sehingga mungkin memerlukan edisi khusus untuk mengupas tentang luasnya kandungan makna ayat yang mulia ini tentang tauhid.

Dalam ayat kursi terdapat penetapan tiga macam tauhid yaitu tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ wa sifat. Pada awal ayat merupakan penetapan tauhid uluhiyah, yakni firman Allah { اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ } yang maksudnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Kemudian Allah menyebutkan tauhid asma’ wa sifat dalam firman-Nya { الْحَيُّ الْقَيُّومُ} (Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri). Ini merupakan penetapan sifat hidup dan berdiri sendiri (tidak butuh kepada makhluk) bagi Allah Ta’ala. Dan firman Allah { لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُ } merupakan penafian. Allah menafikan dari diri-Nya sifat kekurangan dan cela yaitu sifat ngantuk dan tidur. Dalam firman-Nya  { لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ } (kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi) merupakan penetapan rububiyah Allah, Dialah pemilik langit dan bumi dan yang ada di dalamnya. (Duruus min al-Quran oleh Syaikh Shalih Fauzan hal.27)

Ketika menafsirkan ayat kursi ini, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menutup ucapan beliau dengan mengatakan: “Ayat ini mencakup penjelasan tentang tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Dan juga penjelasan cakupan kepemilikan, peliputan ilmu Allah, luasnya kekuasan-Nya, keagungan dan kemuliaan Allah Ta’ala, serta keagungan kebesaran-Nya, dan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Ayat ini secra khusus mengandung penjelasan tentang akidah tentang asma’ dan sifat Allah.” (Taisir al-Karimir Rahman, tafsir al-Baqarah: 255)

Mengamalkan Ayat Kursi
———–
Karena keutamaan dan keagungan dari ayat ini, banyak hadits Nabi-r- yang menganjurkan kita untuk banyak membacanya. Nabi-r-menganjurkan agar umatnya setidaknya membaca ayat ini  sebanyak delapan kali sehari, yaitu satu kali di pagi dan sore hari, satu kali ketika hendak tidur, dan satu kali setiap selesai dari shalat fardhu yang lima waktu.

Membaca Ayat Kursi Setiap Selesai Shalat Fardhu
————
Anjuran untuk membacanya setelah shalat fardhu dijelaskan dalam sebuah hadits shahih, Nabi-r-bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ
“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.” (HR. ath-Thabrani dishahihkan al-Albani, Shahih al-Jami’ no.6464).

Membaca Ayat Kursi Sebelum Tidur
————–
Adapun anjuran untuk membacanya sebelum tidur, terdapat penjelasan dalam hadits sahih riwayat Imam Bukhari yang menunjukkan barangsiapa yang membacanya ketika hendak tidur, maka Allah akan senantiasa menjaganya dan dia tidak akan didekati oleh setan hingga pagi hari. Hadits yang dimaksud adalah kisah Abu Hurairah-radhiallahu anhu-dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata:

“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau beranjak tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”

Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah-r-, beliau berkata:
“Sungguh ia telah berkata benar, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)

Sebagai Dzikir Pagi dan Petang
———-
Dan membacanya sebagai dzikir pagi dan petang dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Sunan an-Nasai dan Mu’jam ath-Thabari al-Kabir dalam kisah lain yang mirip dengan kisah Abu Hurairah di atas, kali ini dari sahabat Ubai bin Ka’ab-radhiallahu anhu-, disebutkan bahwa si jin mengatakan:

مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ

“Barangsiapa membacanya (ayat kursi) ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi dari kami sampai sore.” Lalu ketika pagi hari, Ubai mendatangi Rasulullah-r-dan menayakan tentang ucapan jin itu, Nabipun bersabda:”Si jelek (jin itu) telah berkata benar.” (HR. ath-Thabrani dan an-Nasa’i, dishahihkan al-Albani, Shahih at-Targib no.662).*

***
Oleh: Ust. Saparuddin, Lc.

Share Button