FIQIH RINGKAS ‘IDUL FITHRI

1. Sunnah sebelum berangkat shalat Ied Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah tidak berangkat (ketempat shalat) pada hari raya 'Idul Fitri ...

ramadan

FIQIH RAMADHAN – 2/2

1. Hikmah I'tikaf Allah Y mensyari'atkan I'tikaf bagi hamba-Nya agar ruh dan hatinya berkonsenterasi kepada Allah Y semata, serta ketulusannya hanya ...

ramadan_kareem_by_ahmadturk-d6doyip

FIQIH RAMADHAN – 1/2

QADHA’ PUASA 1.     Kewajiban mengqhada’ puasa bersifat fleksibel dan penuh keleluasaan, walaupun menyegerakannya lebih baik daripada menunda. 2.   ...

ramadan-photos

Amalan Istimewa di Bulan Ramadhan

Sesungguhnya bulan Ramadhan merupakan sebuah rahmat dan karunia Allah U yang agung bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, karena Allah U telah mengkhususk...

Tauhid

view-from-heaven

Siapakah Mereka, 70 ribu Orang yang Akan Masuk Surga Tanpa Hisab dan Azab..?

Sekalipun umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan umat terakhir yang dikeluarkan oleh Allah Ta`ala, namun Allah Ta`ala sangat ...

Aqidah

view-from-heaven

Siapakah Mereka, 70 ribu Orang yang Akan Masuk Surga Tanpa Hisab dan Azab..?

Sekalipun umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan umat terakhir yang dikeluarkan oleh ...

Manhaj

redrose2

Enam Tanda Cinta yang Tulus pada Nabi

Setiap dakwaan membutuhkan pembuktian sehingga bisa dikatakan jujur, begitu juga dakwaan cinta pada Rasulullâh shalallahu 'alaihi wasallam, ...

Ibadah

alhujjah amalan rajab

Amalan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang memiliki keutamaan di sisi Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ ...

Akhlak

alhujjahfeather

Menilik perangai kaum muslimin dewasa ini secara umum, maka iffah merupakan salah satu perangai yang tak lagi semarak bahkan dilalaikan. Mak...

FIQIH RINGKAS ‘IDUL FITHRI

Share Button

view-from-heaven

1. Sunnah sebelum berangkat shalat Ied

Dari Anas bin Malik, dia berkata:

“Rasulullah tidak berangkat (ketempat shalat) pada hari raya ‘Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa buah kurma terlebih dahulu.” [HR. Al-Bukhari (953)].

Dari Nafi’, bahwasanya Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari raya ‘Iedul Fithri sebelum berangkat ke tempat pelaksanaan shalat. [HR Malik (I/77), shahih].

Nabi r juga mengenakan pakaian yang terbaik dan paling indah untuk shalat Ied. [Zaadul Ma’ad:  I/ 441]

2. Berangkat ke tempat shalat (tanah lapang)

Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata:

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam biasa berangkat pada hari raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha ke tanah lapang, maka yang pertama kali beliau mulai adalah shalat.” [HR. Al-Bukhari ( 956) dan Muslim (889)].

3. Berangkat shalat dari satu jalan dan pulang melalui jalan lain dengan  berjalan kaki.

Dari Jabir, dia berkata ;

“Jika hari raya ‘Ied tiba, Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam biasa mengambil jalan lain (ketika berangkat dan pulang).” [HR. Al-Bukhari (986)].

4. Takbir pada hari raya ‘Ied

Telah diriwayatkan bahwasanya Nabi r biasa berangkat menunaikan shalat pada hari raya ‘Ied, lalu beliau bertakbir hingga tiba di tempat pelaksanaan shalat, bahkan hingga shalat akan dilaksanakan. Kemudian, jika shalat akan dilaksanakan beliau pun menghentikan bacaan takbir.

Perlu diingat bahwa tidaklah disyari’atkan bertakbir secara bersama-sama dengan satu suara (koor) sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud beliau bertakbir mengucapkan ;

الله أكبر،الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Diriwayakan dari Ibnu Abbas beliau bertakbir mengucapkan ;

الله أكبر الله أكبر،الله أكبر و لله الحمد، والله أكبر الله وأجل،الله أكبر على ما هدانا.

5. Apakah ada shalat sebelum atau setelah shalat ‘Ied ?

Ibnu Abbas berkata ;

“Bahwasanya Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam   mengerjakan shalat dua raka’at pada hari raya dan tidak mengerjakan shalat lainnya sebelum maupun sesudahnya.” [HR. Al-Bukhari (989)].

6. Hukum shalat ‘Ied

Shalat ‘ied hukumnya wajib bagi setiap individu muslim (fardhu ‘ain). Ini juga merupakan salah satu pendapat Imam Asy-Syafi’i.

7. Waktu shalat ‘Ied

Ibnu Qayyim berkata: “Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam biasa mengakhirkan shalat ‘Iedul Fithri dan menyegerakan shalat ‘Iedul Adh-ha…” Di antara hikmahnya adalah agar mereka yang belum menunaikan zakat, punya kesempatan untuk menunaikannya sebelum solat ‘ied ditegakkan -red.

8. Tidak ada adzan dan iqamat pada shalat ‘Ied

Dari Jabir bin Samuroh, dia berkata:

“Aku pernah mengerjakan shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak hanya sekali atau dua kali, tanpa menggunakan azan dan iqamat.” [HR. Muslim (887)].

9. Tata cara shalat ‘Ied

Pertama: Shalat ‘ied terdiri dari dua rakaat.  ‘Umar berkata:

“Shalat ketika safar itu dua rakaat, shalat ‘Idul Adha dua rakaat, dan shalat ‘Idul Fithri dua rakaat. (semuanya itu dikerjakan) lengkap tanpa di qashar, melalui lisan Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam.”

Kedua: Rakaat pertama dimulai, seperti shalat – shalat lainnya, dengan  takbiratul ihram, lalu disusul dengan tujuh kali takbir. Rakaat kedua dengan lima kali takbir, selain dari takbir perpindahan.’Aisyah berkata:

“Bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam biasa bertakbir pada shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha, yakni pada rakaat pertama tujuh kali takbir dan pada rakaat kedua lima kali takbir, selain dari dua takbir ruku’.” [HR. Abu Dawud (1150), Shahih].

Ketiga: Tidak ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengangkat kedua tangan bersamaan dengan takbir- takbir dalam shalat ‘Ied. Hanya saja, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa Ibnu Umar – dengan kegigihannya dalam mengikuti sunnah – mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir tersebut.

Keempat: Tidak ada hadits shahih dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mengenai do’a tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir shalat ‘Ied. Akan tetapi telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya dia berkata mengenai shalat ‘Ied: “Diantara dua takbir dipanjatkan pujian kepada Allah sekaligus sanjungan baginya.”

Kelima: Setelah takbir selesai, Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam membaca surat  Al-Fatihah lalu dilanjutkan dengan membaca surat al’Ala  pada rakaat pertama dan membaca surat al-Ghosyiyah. Atau boleh juga membaca surat Qaf  dan surat Al-Qamar.

Keenam: Tata cara pelaksanaan shalat ‘Ied ( selain takbir ) sama seperti shalat – shalat lainnya, tidak berbeda sama sekali.

Ketujuh: Orang yang tertinggal mengerjakan shalat ‘Ied berjama’ah boleh mengerjakan shalat dua rakaat seorang diri.

Kedelapan: Takbir dalam shalat ‘Ied (tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua) hukumnya sunnah. Meninggalkannya tidak membatalkan shalat, baik disengaja maupun tidak.

10. Khutbah setelah shalat ‘Ied

Dari Ibnu Abbas  berkata:

“Aku pernah ikut shalat ‘Ied bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Mereka semua mengerjakan shalat sebelum khutbah.” [HR. Al-Bukhari (962) dan Muslim (882)].

Dan tidak ada satu hadits pun, yang diriwayatkan secara shahih, yang menyebutkan bahwa khutbah ‘Ied terdiri dari dua khutbah, yang dipisah antara keduanya dengan duduk.

11. Khutbah ‘Ied dan anjuran untuk menghadirinya

Mendengar khutbah ‘Ied tidak wajib, berbeda dengan mengerjakan shalat ‘Ied (yang hukumnya wajib). Khutbah ‘Ied sama seperti khutbah-khutbah lainnya, yang diawali dengan pujian dan sanjungan kepada Allah.

“Sesungguhnya kami berkhutbah, barang siapa ingin duduk untuk mendengarkannya, dipersilahkan untuk duduk, sedangkan barang siapa yang ingin pergi, dipersilahkan untuk pergi.”[HR. Abu Dawud (1155), Shahih].

12. Jika ‘Ied bertepatan dengan hari Jum’at

Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin menunaikan shalat Jum’at, maka dipersilahkan dia mengerjakannya dan barangsiapa yang tidak ingin mengerjakannya, maka dipersilahkan untuk tidak berangkat (shalat Jum’at).” [HR. ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf: II/305, Shahih]

13. Ucapan selamat pada hari raya ‘Ied

Diriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, dia berkata: “Para sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam jika bertemu pada hari ‘Ied, sebagian mereka mengucapkan kepada sebagian yang lain ;

تقبل الله منا ومنكم  – semoga Allah menerima amal kami dan kalian.”

Wallahu A’lam

***

Penyusun:
Tim al-Hujjah

Artikel:
alhujjah.com

FB Page:
fb.com/alhujjah.ku

Share Button

FIQIH RAMADHAN – 2/2

Share Button

1. Hikmah I’tikaf

Allah Y mensyari’atkan I’tikaf bagi hamba-Nya agar ruh dan hatinya berkonsenterasi kepada Allah Y semata, serta ketulusannya hanya untuk-Nya, berkhalwah (menyendiri) dengan-Nya, dan memutuskan diri dari kesibukan duniawi, dan hanya menyibukkannya dengan Allah Y. Dia menjadikan seluruh perhatiannya untuk dzikir, cinta, dan perhatiannya kepada-Nya. Selanjutnya, keinginan dan detak jantungnya hanya tertuju pada dzikir kepada-Nya, sehinggga keakrabannya hanya kepada Allah, sebagai ganti dari keakrabannya terhadap manusia. Sehingga kelak di alam kubur & akhirat; pada saat dia tidak mempunyai teman akrab, tidak ada sesuatu yang dapat menyenangkannya, selain Dia. Itulah maksud dari I’tikaf yang agung. [Diringkas dari Zadul Ma’ad: II/86-87, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah].

2. Pengertian I’tikaf

I’tikaf berarti tinggal menetap di suatu tempat. Karena itu, orang yang tinggal di masjid dan melakukan ibadah di dalamnya disebut dengan Mu’takif atau ‘Aakif.

3. Disyari’atkannya I’tikaf

I’tikaf disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi r pernah beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Syawwal.
I’tikaf yang paling baik adalah yang dilakukan di bulan Ramadhan. Berdasarkan hadits Abu Hurairah t: “Rasulullah r biasa beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Adapun pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (al-Bukhari: IV/245)
Yang lebih baik lagi, jika I’tikaf dilakukan di hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Nabi r biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau (sampai akhir umurnya). (al-Bukhari: IV/226, Muslim: 1173)

4. Syarat-syarat I’tikaf

a.     Dilakukan di dalam masjid
“Dan janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf dalam masjid….” ( QS. Al-Baqarah: 187 ). Dan sebaiknya i’tikaf di masjid jami’ yang ditegakkan padanya solat jum’at, agar tidak perlu keluar masjid.
b.     Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk berpuasa
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya (8037) dari ‘Aisyah. Ini jika i’tikaf di luar Ramadhan.

5. Hal-hal yang boleh dilakukan oleh orang yang sedang beri’tikaf

a.     Keluar masjid jika ada kebutuhan mendesak
Seperti; makan-minum, mandi junub, buang hajat, dsb. jika fasilitas untuk itu tidak tersedia di masjid. Ini berdasarkan riwayat ‘Aisyah:
“..beliau tidak masuk rumah, kecuali untuk suatu kebutuhan (manusia) jika beliau sedang beri’tikaf.” (al-Bukhari: 342 dan Muslim: 297)
b.     Berwudhu’ di dalam masjid
Hal ini berdasarkan ucapan seorang yang berkhidmad pada Nabi r: “Nabi  r berwudhu’ di dalam masjid dengan wudhu’ yang ringan.” (shahih. HR. Ahmad : V/364)
c.     Mendirikan kemah kecil di bagian belakang masjid
‘Aisyah telah mendirikan sebuah tenda untuk Nabi r  jika beliau beri’tikaf. Dan yang demikian itu atas perintah beliau r.
d.     Menggelar karpet atau tempat tidur di dalam kemah
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi r, bahwasannya jika beliau melakukan i’tikaf, maka digelarkan bagi beliau karpet atau tempat tidur di balik tiang.” [HR. Ibnu Majah 663]

6. I’tikafnya seorang wanita & kunjungannya kepada suaminya yang beri’tkaf di dalam masjid.

a.     Seorang wanita boleh mengunjungi suaminya yang tengah beri’tikaf.
Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyay radhiallahu ‘anha, pernah datang berkunjung kepada Nabi r yang tengah beri’tikaf di dalam masjid. Setelah itu, Nabi r pun mengantar beliau ke depan pintu masjid. Hal ini telah diriwayatkan oleh [al-Bukhari: IV/240 dan Muslim: 2157].
b.     Seorang wanita boleh beri’tikaf bersama suaminya, ataupun sendirian.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah: “Nabi r biasa beri’tikaf di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sampai akhir hayatnya. Sepeninggal beliau, istri-istrinya pun beri’tikaf.”

ZAKAT FITRAH

    Hukum zakat fitrah

Zakat Fitrah hukumnya wajib. Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar t beliau berkata:
“Rasulullah r mewajibkan zakat fitrah (kepada ummat manusia pada bulan Ramadhan).” [al-Bukhari: III/291, Muslim: (984).

    Orang yang wajib mengeluarkan zakat fitrah

Zakat fitrah diwajibkan atas anak kecil, orang dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka, maupun budak dari kalangan kaum muslimin. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amr t
“Rasulullah r mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma masak atau satu sha’ gandum atas budak, orang-orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin.”  al-Bukhari: III/291 dan Muslim: 984].

    Jenis makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitrah

Zakat fitrah dikeluarkan berupa satu sha’ gandum/beras, satu sha’ kurma, satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering (kismis). Berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri t:
“Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah berupa satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering kismis.” [al-Bukhari: III/294 dan Muslim: 985].

    Ukuran zakat fitrah

Para ulama (Lajnah Daimah, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu sha’ untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.

    Untuk siapa saja seseorang mengeluarkan zakat fitrah?

Seorang muslim boleh mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri atau siapa saja yang menjadi tanggungannya. Hal ini berdasarkan pada hadits: “Rasulullah r memerintahkan mengeluarkan zakat fitrah untuk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka, dan budak yang termasuk ke dalam tanggungan kalian.”

    Pihak-pihak yang berhak menerima zakat fitrah

Zakat fitrah hanya diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya, yaitu orang-orang miskin. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas:
“Rasulullah r mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan, kata-kata kotor sekaligus untuk memberi makan orang-orang miskin.”

        Waktu pemberian zakat fitrah

Zakat fitrah dikeluarkan sebelum shalat ‘Ied. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas: “Siapa yang menunaikannya sebelum shalat, maka ia termasuk zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat, maka ia termasuk sedekah biasa….” [Hasan, al-Irwa: 843]
Boleh juga diserahkan beberapa hari sebelumnya melalui Amil Zakat, dengan catatan, Amil Zakat membagikannya pada faqir miskin pada waktunya, yaitu semenjak terbenamnya matahari di akhir Ramadhan sampai sebelum Solat ‘Ied. Ini berdasarkan perbuatan Ibnu ‘Umar yang menyerahkannya 1 atau 2 hari sebelum hari ‘Ied.*

***

Penulis:
Tim Redaksi al-Hujjah

Artikel alhujjah.com
Facebook Page: fb.com/alhujjah.ku

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/7lde2jncmivxy87iaab1ttrfp4z3xifn

Share Button

FIQIH RAMADHAN – 1/2

Share Button

QADHA’ PUASA

1.     Kewajiban mengqhada’ puasa bersifat fleksibel dan penuh keleluasaan, walaupun menyegerakannya lebih baik daripada menunda.
2.     Tidak wajib mengqhada’ secara berurutan dan berkesinambungan. Allah Y berfirman:

﴿فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر… ﴾

“…Maka berpuasalah pada hari-hari yang lain….” (QS. Al-Baqarah: 185)
3.     Orang yang meninggal dunia dan memiliki tanggungan puasa maka walinya menanggung fidyah, dengan memberi makan kepada satu orang miskin sebagai pengganti setiap satu hari puasa yang terluputkan (misal: 5 hari luput, berarti 5 fidyah), dan tidak wajib mengqhada’nya kecuali yang luput adalah puasa nadzar. Demikianlah menurut riwayat  shahih dari istri Nabi ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhum [lih. al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassaroh: 3/331]. Ini pendapat pertama dalam masalah ini.

Adapun pendapat kedua, sebagian ulama mengatakan; walinya menanggung qadha’ (dengan berpuasa untuk si mayit sebanyak hari yang luput) berdasarkan keumuman sabda Rasulullah r :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ صَامَ عَنْهُ َوَلِيُّهُ

“Barang siapa meninggal dunia sedang dia mempunyai tanggungan puasa, maka walinya yang harus meng-qadha puasanya itu.” (Bukhari: IV/168 dan Muslim: 1147).

Namun pendapat pertama lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran. Wallahu’alam.

KAFFARAT ( DENDA )

1.     Jika suami-istri melakukan hubungan badan di siang hari Ramadhan, maka puasanya batal dan wajib di-qadha ditambah kaffarat berupa; (1)     Memerdekakan budak. Jika tidak mampu maka, (2).     Berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu maka (3).     Memberi makan enam puluh orang miskin.
2.     Orang yang wajib membayar kaffarat tetapi dia tidak mampu melakukan semua bentuk kaffarat tersebut maka kewajiban itu menjadi gugur.
Allah Y berfirman:
﴿ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا ﴾
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)
3.     Seorang istri tidak diwajibkan membayar kaffarat. Insya Allah inilah pendapat yang lebih kuat.
Yang demikian itu karena dalam hadits Abu Hurairah [al-Bukhari: 1936, Muslim: 1111] Nabi r hanya memerintahkan pihak suami untuk menunaikan kaffarat. Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa pihak istri juga wajib menunaikan kaffarat [al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassaroh: 3/312].

FIDYAH

1.    Orang tua yang tidak mampu berpuasa baik laki-laki maupun wanita mereka boleh berbuka dan membayar fidyah sebagai gantinya.
2.     Wanita hamil dan menyusui, jika khawatir terhadap dirinya sendiri atau terhadap anaknya, maka keduanya boleh tidak berpuasa dan memberikan makan orang miskin setiap hari dan tidak perlu mengqhada’.
Allah Y berfirman :
﴿وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ  ﴾
“… Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184)

SHALAT TARAWIH

1.     Dilakukan berjama’ah
Shalat tarawih disyari’atkan dikerjakan berjamaah. Hal itu didasarkan pada hadits ‘Aisyah: “Pada suatu malam Rasulullah r keluar untuk mengerjakan shalat di masjid. Lalu, orang-orang pun mengikuti shalat beliau ….” [Al- Bukhari (220) dan Muslim (761)].
2.    Jumlah rakaat shalat tarawih
Jumlah rakaat shalat tarawih  yang sesuai dengan petunjuk Nabi r adalah delapan rakaat dan tiga rakaat witir. ‘Aisyah berkata:
ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mengerjakan shalat sunnah lebih dari sebelas rakaat, baik pada malam bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya.” Hadits shahih. HR. Bukhari (III/16) dan Muslim (736).
Apa yang disampaikan oleh Aisyah itu dibenarkan oleh Jabir bin Abdillah t, dia berkata:
أن النبي صلى الله عليه وسلم لما أحيى بالناس ليلة في رمضان صلى ثماني ركعات وأوتر
“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika menghidupkan malam dengan orang-orang pada bulan Ramadhan, Beliau mengerjakan delapan rakaat dan mengerjakan shalat witir.” Hadits hasan HR. Ibnu Hibban (920) .

LAILATUL QADAR

1.    Keutamaan lailatul qadar
﴿إِنَّآ أَنْزَلْنَــــــــــــــــهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَىـــــــكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْف ِشَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَـــــــئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلا مٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴾
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan.Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr : 1 – 5)
2.     Waktu lailatul qadar
Diriwayatkan dari Nabi r bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke21, 23, 25, 27, 29, dan malam terakhir dari bulan Ramadhan. Rasulullah r bersabda:
التمسوها في العشر الأواخر فإن ضعف أحدكم أو عجز فلا يغلبن على السبع البواقي
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian mampu atau lemah, hendaklah dia tidak ketinggalan untuk mengejar tujuh malam lainnya,” Hadits shahih HR Bukhari (IV/221) dan Muslim (1165)
3.     Cara seorang muslim mendapatkan lailatul qadar
Rosulullah r bersabda:
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa yang shalat pada (malam) Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu.” Hadits shahih HR Bukhari (IV/217) dan Muslim (759).
4.     Tanda-tanda (malam) lailatul qadar
Rasulullah r  bersabda :
صبيحة ليلة القدر تطلع الشمس لا شعاء لها، كأنها طست حتى ترتفع
“Pagi hari(setelah)malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar, seakan-akan ia bejana (baskom) hingga ia menunggal.” Hadits shahih HR Muslim (762).
ليلة القدر ليلية سمحة، طلقة، لا حارة، ولا باردة، تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء
“Lailatul Qadar merupakan malam penuh kelembutan, cerah,tidak panas, dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari tampak lemah dan merah.” Hadits hasan HR.Ibnu Khuzaimah (III/231). Wallahu A’lam

***

Penulis:
Tim Redaksi al-Hujjah

Artikel alhujjah.com
Facebook Page: fb.com/alhujjah.ku

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/0yigxeqeig73xh7t3k18otgbr3k6a9ou

Share Button

Amalan Istimewa di Bulan Ramadhan

Share Button

Sesungguhnya bulan Ramadhan merupakan sebuah rahmat dan karunia Allah U yang agung bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, karena Allah U telah mengkhususkannya dengan berbagai keistimewaan yang tidak terdapat di bulan-bulan yang lain, maka berbahagialah orang-orang yang Allah pertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka bersungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan mengisi Ramadhan dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, kami akan sebutkan beberapa amalan yang disyariatkan untuk kita amalkan semoga kita termasuk orang yang diampuni oleh Allah U dan dibebaskan dari api neraka serta dimasukkan ke dalam sorga-Nya kelak. Di antara amalan-amalan tersebut adalah:

1. Melakukan ibadah puasa

Dari Abu Hurairah t, Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Melakukan shalat malam (Tarawih) dengan berjamaah

Dari Abu Hurairah t, Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist yang lain dari Abu Dzar t, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya apabila seseorang shalat malam bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya seperti ia shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud, Tirmizdi dan Nasa’i)
Syaikh Albani mengatakan: “Disyariatkan berjamaah dalam melakukan shalat malam Ramadhan (Tarawih), bahkan berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian karena Nabi sendiri yang melakukannya.” (Qiyamu Ramadhan)

3. Memperbanyak sedekah dan kedermawanan seperti memberi makan fakir miskin, membantu orang yang membutuhkan, memberi makan orang yang berpuasa saat berbuka, dll.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi r adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan Beliau akan bertambah pada bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril, dan kedermawanan Rasulullah ketika bertemu Jibril melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist yang lain dari Zaid bin Khalid Al-Juhani t, Rasulullah r bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مَثْلُ أجْرِهِ  غَيْرَ أنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجْرِ الصَائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad, Tirmizdi, dan Nasa’I serta di shahihkan oleh Albani)

4. Memperbanyak membaca Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, karena pada bulan Ramadhan Al-Qur’an pertama kali diturunkan, sebagaimana firman Allah U:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dengan batil).” (QS. Al-Baqarah : 185)
Para Ulama terdahulu memiliki perhatian yang sangat dengan Al-Qur’an apabila telah datang bulan Ramadhan, Imam Ibnu Rajab mengatakan, “Para ulama salaf mereka membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan di dalam shalat dan di luar shalat.” (Lathaiful Maarif: 191)

5. Melaksanakan Ibadah Umroh

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah r bersabda:

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umroh pada bulan Ramadhan sama pahalanya seperti berhaji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. I’tikaf di masjid

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Sesungguhnya Rasulullah r I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah U mewafatkannya kemudian beri’tikaf para istri Beliau sepeninggalannya.” (Muttafaq “Alaihi)

7. Mencari keutamaan lailatulqadar dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah

Dari Abu Hurairah t, Rasulullah r bersabda: “Barangsiapa yang shalat malam pada malam LailatulQadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur

Dari Sahl bin Sa’ad t, Rasulullah r bersabda :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari)
Dari Anas bin Malik t, Rasulullah r bersabda:

تَسَحَّرُوْا فَإنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah, karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

9. Memperbanyak zikir, doa dan istigfar

Ketahuilah bahwa semua waktu pada bulan Ramadhan merupakan waktu yang mulia maka pergunakanlah untuk memperbanyak zikir, berdoa dan beristigfar kepada Allah terutama pada waktu-waktu yang mustajab seperti ketika berbuka, sepertiga akhir malam, antara azan dan iqamah dan hari jumat.
Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya orang yang berpuasa ketika ia berbuka doanya tidak akan di tolak.” (HR. Ibnu Majah)

10. Membayar zakat fitrah

Di penghujung bulan Ramadhan wajib bagi setiap orang yang beriman baik laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, orang merdeka maupun budak sahaya untuk mengeluarkan zakat fitrah kepada fakir miskin sebelum shalat hari raya seukuran satu sha’ makanan pokok (sekitar 2,5 kg).
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah r mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari kesia-sian dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan fakir miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (hari raya) maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanyalah sedekah di antara sedekah biasa.” (HR. Abu Daud)

Tentunya masih banyak amalan-amalan dan ibadah yang bisa kita amalkan pada bulan yang mulia ini, namun tak semuanya dapat kami sebutkan, semoga apa yang kami sebutkan bermanfaat bagi diri kami dan pembaca semuanya, semoga Allah U memudahkan kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan melipatgandakan pahala kita di bulan yang penuh berkah ini.

Wallahu A’lam

***

Penulis:
Ahmad Firdaus, Lc.

Artikel alhujjah.com
Facebook Page: fb.com/alhujjah.ku

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/0yigxeqeig73xh7t3k18otgbr3k6a9ou

Share Button

Marhaban Yaa Ramadhan

Share Button

Ramadhan sebentar lagi datang menyapa kita, semoga Allah berkenan mempertemukan kita dengannya.

Ramadhan adalah tamu agung dan mulia, padanya ada motivasi (targib) bagi pecinta kebaikan untuk segera memamfaatkannya dalam kebaikan dengan segala bentuknya, padanya ada peringatan dan teguran bagi para pecandu dosa dan kemaksiatan agar menahan diri dari segala jenis dosa yang selama ini terus dinikmati, setan tidak leluasa menggoda sebagaimana pada bulan-bulan yang lain, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta pembebasan dari api neraka bagi hamba-hamba Allah yang Ia kehendaki. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah :

Artinya: “Apabila malam pertama bulan ramadhan telah tiba maka syaithan dan jin yang membangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak satupun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak satupun ditutup, sang penyerupun berseru: wahai yang senantiasa mencari kebaikan kemarilah! Wahai yang senantiasa melakukan keburukan tahanlah dirimu! Dan ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka oleh Allah dan itu (terjadi) pada setiap malamnya”.

Pada edisi kali ini, kami akan membahas beberapa hal yang insya Allah penting untuk kita ketahui sebagai bekal kita memasuki Ramadhan tahun ini dengan izin Allah.

Pengertian Puasa adalah menahan diri yang bersifat khusus, dari hal-hal tertentu, pada waktu tertentu dengan syarat-syarat tertentu. Atau dengan redaksi yang lain, puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar shodiq sampai tenggelamnya matahari.

Hukum puasaRamadhan adalah wajib atas setiap muslim, berakal sehat, balig dan tidak sedang musafir dan bagi wanita tidak sedang haid atau nifas. Allah berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Rukun puasa yang berpengaruh terhadap sah atau tidaknya puasa seseorang ada dua:

  1. berniat di malam hari sebelum sebelum terbit fajar shadiq (sebelum waktu subuh tiba). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya semua amalan hanya tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan (sesuai dengan) apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadist yang lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((مَن لَمْ يُبَيِّت الصِّيَامَ مِن اللَّيلِ فَلاَ صِيامَ لَهُ ))

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa di malam hari maka tidak ada puasa bagi orang tersebut”. (HR. Abu Daud, shahih).

  1. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dll sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari (malam).

Allah berfirman:

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa (menahan diri) itu sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah 187)

Hal-hal yang membatalkan puasa.

Diantara perkara yang membatalkan puasa adalah:

  1. Makan dan minum dengan sengaja.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “barangsiapa yang lupa dalam keadaan berpuasa lalu ia makan atau minum (karena lupa) maka hendaknya ia melanjutkan puasanya, sesungguhnya Allahlah yang telah memberinya makan atau minum”. (HR. Bukhari & Muslim).

  1. Muntah dengan sengaja.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: barangsiapa yang muntah (tak terkendali) maka tidak wajib atasnya untuk mengqada’ dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka ia wajib mengqadha’ puasanya.” (HR. Tirmidzi, Shahih)

  1. Haid dan nifas bagi wanita.

Dari Mu’adzah al Adawiyah bahwasanya ia berkata kepada Aisyah: kenapa yang haid wajib mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat? Aisyah berkata: kami mengalami hal itu (haid) lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan mengqhada’ shalat.” (HR Muslim)

  1. Melakukan hubungan suami istri disiang hari.

Allah berfirman:

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-baqarah: 187)

Bila Allah membolehkan para suami untuk membarengi istri dimalam hari bulan Ramadhan maka itu berarti tidak boleh melakukannya di siang hari.

Menentukan hilal (awal bulan) ramadhan dan hilal bulan syawal.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita dua cara untuk menetapkan awal bulan Ramadhan, yaitu dengan cara ru’yatul hilal atau melihat bulan sabit pada malam ke 30 dari bulan sya’ban, apabila pada malam itu hilal tidak nampak atau tidak terlihat karena cuaca mendung maka cara kedua adalah ikmal yaitu menyempurnakan jumlah bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah t :

(( صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُم فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِين ))

“Berpuasalah karena telah melihatnya (hilal Ramadhan) dan berbukalah (berlebaran) karena melihatnya (hilal Syawal) juga, apabila hilal tidak nampak bagi kalian maka sempurnakan bilangan sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari & Muslim)

Anjuran segera berbuka puasa.

Bila seseorang yakin bahwa matahari telah tengelam maka ia dianjurkan untuk segera berbuka puasa dan tidak menunda-nunda sampai gelap dan bintang muncul. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Orang-orang senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka segera berbuka (puasa).” (HR. Bukhari & Muslim)

Anjuran makan sahur.

Diantara perkara yang dianjurkan bagi yang berpuasa adalah makan sahur dan dilakukan di akhir malam sebelum fajar shadiq terbit. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Makan sahurlah kalian karena pada makan sahur itu ada keberkahan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Selain menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa kita juga harus memperhatikan hal-hal yang bisa mengurangi atau menghapus pahala puasa seperti berbohong.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, perbuatan dusta dan tindakan bodoh maka Allah tidak menghendaki orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah tulisan ringkas yang bisa kami rangkum, semoga bermanfaat.

***

Download versi cetak (PDF) artikel ini di:
https://app.box.com/s/4lw8rkl4lcs30qlr37sz929qx708aisx

***

Penulis:
Ust. Zahid Zuhendra, Lc.
(Anggota Dewan Redaksi)

Artikel:alhujjah.com

Facebook Page:
fb.com/alhujjah.ku

Share Button